Friday, 29 March 2019
Secangkir Kopi Beraroma Dusta
Sejak kapan kamu menyukai kopi hitam tanoa gula?tanya ari , teman kerja yang sudah satu tahun aku kenal . Ari bukan orang baru dalam kehidupanku .Makanya hampir tahu kebiasaanku , pun soal kopi yang kini menjadi candu buatku .
Sejak aku tahu yang manis itu berada di kedalaman pahit , bukan di permukaannya . Yaah..., kurang lebih seperti kopi dalam cangkir ini , ujarku lirih . Kopi memang terkesan pahit dan kebanyakan orang menambahkan sedikit gula dalam penyajiannya , atau di campur pula dengan susu . Semua kembali ke selera masing - masing . Dan aku pun kenapa memilih kopi hitam tanpa gula ? itu karena aku sudah terlalu manis hahhahh....
At least , jika kamu ingin tahu . Di sinilah aku pernah menemukan kenyamanan bersama seorang teman beberapa tahun lalu . Saat kami sama - sama berlibur di pulau yang masih sedikit pengunjungnya ini . Di sebuah pulau yang terkenal dengan sajian kopi pekat , memikat lidah mmeski di sini bukan perkebunan kopi .Sesimpel itukah alasannya ? tanya ari dengan pandangan penuh selidik .
Terlalu banyak dusta yang akan kau dengar bila aku harus menjelaskan saat ini . Bagiku , secangkir kopi akan selalu menghadirkan sensasi rasa yang berbeda . Pun dengan kita , ujarku nyaris tak terdengar . Maaf Ar , bila aku berdusta tentang rasa ini . Sebenarnya aku tak ingin terlalu lama berpura - pura untuk mencintaimu .
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan komentar Anda...
1. Berkomentarlah yang relavan dengan bahasa yang sopan.
2. Dilarang komentar yang mengandung unsur SARA
3. No Spam No live link